Home Nasional Jawa barat Majalengka Keislaman Aswaja Khutbah Opini Sejarah BIOGRAFI MWC NU BANOM LEMBAGA PC NU Pendidikan PONPEST Serba - serbi DOwnload

Mengungkap Filosofi Pohon Sawo Pangeran Diponegoro

Mengungkap Filosofi Pohon Sawo Pangeran Diponegoro
Sawo berasal dari bahasa Arab, Sawwu Shufuufakum (luruskan/rapatkan barisan). Hal ini sesuai dengan pepatah, "Sawwuu Shufuufakum fainna Tashwiyatashufuufi min Tamaamil Harakah"
Sawo berasal dari bahasa Arab, Sawwu Shufuufakum (luruskan/rapatkan barisan). Hal ini sesuai dengan pepatah, "Sawwuu Shufuufakum fainna Tashwiyatashufuufi min Tamaamil Harakah"

Oleh : Raden Mas HM. Zaenal Muhyidin

(Ketua NU Care-LazisNU Kab. Majalengka dan Peserta PKPNU Angkatan I PCNU Majalengka)


Bulan Januari 2021 ini saya sengaja mengupload kembali penanaman sawo sandi karena bertepatan dengan haulnya Pangeran Diponogoro ke-135 (8 Januari 1885 - 8 Januari 2021).


Ada dua alasan penting, kenapa tulisan ini saya munculkan kembali. Pertama, sebagai bentuk "pengingat" kita semua selaku generasi penerus bangsa, agar tak melupakan sejarah (jasmerah). Terlebih Pangeran Diponogoro merupakan seorang tokoh pendiri bangsa, ulama, dan wali.

 

Kedua sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah Swt yang telah memberikan kemerdekaan melalui perjuangan seluruh komponen bangsa salah satunya Pangeran Diponegoro. Dari perjuangan beliau diteruskan Hadratussyeikh KH. Mohamad Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan para ulama lainya yang mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).

 

Atas alasan itu, selepas shalat Ashar berjamaah, Senin (24/08/20). Saya bersama santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi menyaksikan penanaman pohon Sawo, di belakang kanan masjid atau depan sebelah kanan pengimaman.

 

Sebelum penanaman sendiri, diawali dengan tawasul kepada Nabi Muhammad Saw, dzurriyah, para sahabat, tabi'in, para aulia dan ulama, juga kepada Sultan Abdulhamid Herukuco/Rd. Mas Ontowiryo atau yang dikenal Pangeran Diponegoro. Dan tak lupa ke muasis NU seperti mbah Kholil, mbah Hasyim Asy'ari, mbah Wahab dst.

 

Penanaman pohon sawo sendiri ditanam langsung oleh saya selaku Khaadimul Ma'had sekaligus Kader PKPNU PCNU Majalengka Angkatan 1. Disusul Kiai Sholihin, Kyai Herman, dan para kader yang lain. Sambil menanam para santri membaca shalawat Imam Bushiri, shalawat Badar, dan shalawat An Nahdliyyah.

 

Penanaman ini sendiri selain melaksanakan amanah PKPNU, juga Taqorruban Ilallah, serta melestarikan lingkungan yang hijau dan lestari pada umumnya.

 

Sawo; Simbol Santri & Jaringan Dipenegoro.

 

Sewaktu kecil kira-kira usia saya 6-7 tahun. Saya pernah jatuh dari pohon sawo yang ada di samping kanan masjid di kampung halamanku. Jatuhnya dari pohon ini karena tidak memegang ranting yang kering.

 

Usia anak anak kala itu belum bisa membedakan mana ranting basah dan mana ranting kering. Atas kejadian itu, saya tidak menyesal jatuh dari pohon sawo, meski hanya sakit pinggang. Apalagi kini pohon sawo ternyata sangat bersejarah dan menyimpan palsafah dan simbol tersendiri.

 

Seiring berjalannya waktu, pohon sawo di kampung halaman saya telah tiada. Kala itu ditanam di tanah kosong atau di pinggir masjid, karena sebelumnya kolam. Saya sendiri saat kecil tidak mengetahui secara detail kenapa pohon itu ada atau ditanam disamping masjid dan kenapa akhirnya ditebang?

 

Selepas lulus SD saya tidak lagi di kampung halaman lagi. Saya mulai mengelana mencari ilmu alias mondok pesantren ke pesantren. Pulang ke rumah hanya 6 bulan sampai setahun sekali. Oleh karena itu, penanaman ini juga saya maksudkan sebagai pengganti pohon sawo di kampung halamanku.


Saya hanya meraba-raba saja jawabanya (mudah"an saja benar. Aamiin). Mungkin saja salahsatu nenek moyangku masih ada hubunganya dengan Pangeran Diponegoro.

 

Karena jika dilihat dari nama Bapak, Aki, Uyut, Jangkawareng, Udeg", semuanya pake Rd.Mas di depanya. Allaahu Yarhamuhum; Rd. Mas Sjarif Hidajat bin Rd. Mas Judamanggala bin Rd.Mas Pani Martamanggala bin Rd.Mas Jaja Manggala (dalam tulisan ini huruf "J" dibaca "Y").

 

Tapi menurut info keluargaku katanya karuhunku dari Mataram, tapi ada juga yg bilang dari Demak. Bagi saya mana saja tidak apa" yang penting keturunan orang shaleh dan melahirkan orang" shaleh ila yaumil qiyamah. aamiin.

 

*Falsafah Sawo*

 

Falsafah pohon Sawo, sebagaimana dijelaskan Kyai Mun'im dalam bukunya, "Fragmen Sejarah NU Menyambung Akar Budaya Nusantara", adalah pesan dari Pangeran Diponegoro kepada Kyai Badrudin. Dan kepada kyai lainya seperti Kyai Basah Mintaraga, Kyai Kasan Besari, dan Kyai Maderan agar segera menanam pohon Sawo.

 

Dalam buku tersebut dijelaskan, akibat kekalahanya dalam perang dengan Pangeran Diponegoro, beberapa kali Belanda meminta berunding untuk damai. Tapi oleh Diponegoro ditolaknya. Menurutnya, menerima perundingan berarti menerima kehadiran Belanda sebagai penjajah.

 

Pihak Belanda melakukan segala cara untuk bertemu dan berunding dengan Diponegoro termasuk meminta bantuan kepada para raja dan kiai. Akhirnya, persis di hari Idul Fitri Pangeran Diponegoro mau menerima tawaran Belanda tapi bukan untuk berunding tapi bersilaturrahim karena momen lebaran.

 

Selain itu syarat yang diajukan Pangeran Diponegoro, pihak Belanda tidak boleh membawa senjata. Pihak Belanda pun menyetujuinya. Akan tetapi di hari pertemuan Belanda mengingkari janjinya. Bahkan Belanda sendiri membawa senjata lengkap bersama para pasukannya. Atas kejadian itu, akhirnya Pangeran Diponegoro ditangkap. Karena Pangeran Diponegoro seorang yang waskita maka dihadapinya dengan tenang dan tidak melakukan perlawanan.

 

Pada kondisi tenang itulah Pangeran Diponegoro membisikan pesan terakhir kepada kiai Badrudin untuk segera menanam pohon Sawo. Kemudian kiai Badrudin menyampaikanya kepada para kia lainya. Para ulama tersebut merupakan para kiai yang mempunyai kelebihan, linuih, atau karomah.

 

Kemudian para kiai menanamnya di depan pesantren dan masjid sebagai sandi bagi lasykar Diponegoro untuk terus melakukan perlawanan kepada penjajah Belanda.

 

Sawo=Sawwu=Rapatkan Barisan!

 

Masih dalam buku tersebut, Kyai Mun'im, menjelaskan bahwa Sawo berasal dari bahasa Arab, Sawwu Shufuufakum (luruskan/rapatkan barisan). Hal ini sesuai dengan pepatah, "Sawwuu Shufuufakum fainna Tashwiyatashufuufi min Tamaamil Harakah" (rapatkan barisan karena merapatkan barisan prasyarat bagi suksesnya perjuangan).


Perintah ini menyebar ke berbagai pelosok dan pesantren. Sehingga dalam waktu singkat pohon Sawo telah ditanam di pesantren" dan masjid mulai dari Banten, Magelang hingga Banyuwangi. Bahkan di Bali dan Lampung terdapat pusat perlawananan yang sama.

 

Pohon sawo yang ditanam itu ada dua macam yaitu Sawo kecik (kecil dan kemerahan) dan sawo manila (buahnya besar dan warna coklat muda). Dengan adanya sandi maka para pejuang lebih mudah untuk melakukan perlawanan karena bisa berlindung di setiap pesantren yang terdapat pohon sawo.

 

Menanam sawo, sebagaimana dijelaskan dalam buku tersebut adalah sebagai bentuk Perlawanan kepada penjajah Belanda.

 

Zainul Milal dalam bukunya "Masterpice Islam Nusantara", mengungkapkan, pengikut Diponegoro terdiri dari berbagai kalangan termasuk para ulama dan kiai. Rinciannya, 108 kiai, 31 haji, 15 syekh, 12 penghulu, serta 4 kiai guru.

 

Dunia orang Jawa kan penuh perlambang atau isyarat. Pohon sawo tampaknya digunakan sebagai 'perlambang' (isyarat) dari perintah untuk taat meluruskan shaf ketika hendak shalat: sawwu shufufakum (luruskan shafmu)' kata peneliti dunia pesantren di kawasan selatan Jawa, Ahmad Khoirul Fahmi.

 

Sedangkanan sawo kecik itu dmemberi pesan setelah meluruskan shaf (bersatu membentuk jaringan) jadilah orang yang 'becik' (baik).

 

Namun sejarawan asal Inggris yang menekuni sejarah Pangeran Diponegoro, Peter Carey menyebut, sebenarnya laskar Pangeran Diponegoro terdiri dari berbagai elemen. Di pasukan ada pasukan militer, pasukan juga terdiri dari kyai dan ulama yang tidak memiliki kemampuan ilmu kanuragan.

 

Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 syeikh, 12 penghulu Yogyakarta dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.

 

Penutup, semoga penanaman pohon Sawo yang kami lakukan dapat memberikan inspirasi serta membawa berkah buat kita semuanya, khususnya saya, keluarga, Al-Mizan, NU dan Bangsa. Aamiin

 

*Tulisan ini pernah saya uploud di medsos baik itu akun pribadi, grup dan media online sekira bulan Agustus 2020. Tepatnya pasca PKPNU Angkatan ke-1 di Cikijing Kab. Majalengka.