Makesta 3 Bahas Studi Gender! Teh Mey Ajak Hapus Pelabelan Sejak Dini
Majalengka — Minggu, 23 November 2025. Kegiatan Makesta 3 PAC IPNU-IPPNU Majalengka berlangsung semarak di Gedung Serba Guna Masjid Agung Al-Imam Majalengka. Salah satu agenda yang menarik perhatian peserta ialah penyampaian materi Studi Gender 1 oleh Teh Mey Widiawati, S.Pd, seorang aktivis perempuan yang dikenal konsisten mengedukasi masyarakat terkait isu-isu kesetaraan gender.
Dalam paparannya, Mey Widyawati, S.Pd atau akrab disapa Teh Mey menjelaskan bahwa studi gender bukan sekadar membahas laki-laki dan perempuan, melainkan menelaah bagaimana peran sosial dibentuk oleh budaya, lingkungan, dan konstruksi masyarakat. Ia menegaskan bahwa pemahaman ini penting untuk menciptakan ruang sosial yang adil bagi semua.
Teh Mey juga menyoroti masih banyaknya kesalahpahaman di masyarakat mengenai isu gender. Menurutnya, pembahasan gender sering dianggap sebagai upaya mengubah kodrat, padahal yang diperjuangkan adalah keadilan dan kesetaraan antarindividu tanpa melihat jenis kelaminnya.
Di bagian akhir materi, Teh Mey memberikan imbauan kepada peserta untuk menghapus praktik pelabelan gender dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada anak.
“Kita harus mulai membiasakan kesetaraan sejak kecil. Jangan lagi ada anggapan bahwa hanya anak perempuan yang harus beres-beres rumah. Semua anak berhak dan berkewajiban sama. Pelabelan seperti itu harus dihentikan,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan budaya dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga.
Sesi diskusi dipandu oleh moderator Risma Nailul Muna, yang membawa jalannya dialog menjadi lebih interaktif. Peserta Makesta terlihat antusias memberikan pertanyaan, salah satunya mengenai akar budaya patriarki di Indonesia.
“Kenapa budaya patriarki sangat menjalar di Indonesia?” tanya salah satu peserta.
Menanggapi hal tersebut, Teh Mey menjelaskan bahwa kuatnya patriarki merupakan hasil dari tradisi turun-temurun, struktur sosial lama, serta pemahaman budaya yang belum seutuhnya berpihak pada kesetaraan. Meski demikian, ia menekankan bahwa perubahan tetap mungkin dilakukan melalui pendidikan dan kesadaran kolektif.
Kehadiran Teh Mey memberikan warna tersendiri pada Makesta 3. Terlebih, meskipun pada hari yang sama beliau memiliki agenda lain, Teh Mey tetap memilih memenuhi undangan dari panitia Makesta sebagai bentuk komitmen dan apresiasi.
Sesi ini ditutup dengan pesan agar generasi muda IPNU-IPPNU mampu menjadi motor perubahan dalam mewujudkan masyarakat yang inklusif, adil, dan berperspektif gender.
#gender #ipnuippnu #pelajarnumajalengka